Setiap Nabi yang diutus oleh Allah, pasti memiliki mukjizat. Seperti Nabi Musa yang mengubah tongkat menjadi Ular besar dan mampu membelah Laut Merah, mukjizat Nabi Isa yang mampu menghidupkan orang mati, mukjizat Nabi Sulaiman yang mampu memerintah bangsa jin dan berbicara dengan binatang, atau seperti mukjizat Rasulullah Saw yaitu diturunkannya Al-Quran untuk umatnya. Selain diturunkannya Al-Quran, ternyata ada mukjizat yang tidak kalah dahsyat, yaitu Ketika bulan Terbelah menjadi dua. bagaimana kisahnya? Yuk kita simak
Suatu ketika ada seorang raja yang terlalu fanatik dalam menyembah berhala, yaitu raja Habib bin Malik dari Syam. Suatu hari ia mendapatkan surat dari Abu Jahal yang isinya adalah kabar adanya agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.
Setelah membaca surat itu, lantas muncullah keinginan untuk menemui Nabi Muhammad Saw. Raja Habib bin Malik pun membawa 12 ribu orang menuju Mekah. Setelah sampai di perbatasan, ia mengirim utusan untuk memberi tahu bahwa sang raja sudah tiba di al-Abthah.
Berangkat dari rasa penasaran terhadap Nabi Muhammad Saw, salah satu orang dari bani Hasyim mengatakan bahwa sewaktu kecil beliau dikenal jujur, dapat dipercaya, dan memiliki akhlak mulia. Setelah menginjak usia 40 tahun, ia mulai menyebarkan agama baru yang berbeda dengan para pendahulu-pendahulunya.
Akhirnya Nabi Muhammad Saw pergi memenuhi permintaan sang Raja, sembari mengenakan jubah merah dan sorban hitamnya. Beliau ditemani oleh Siti Khadijah dan Abu Bakar Ash Siddiq. Namun sepanjang perjalanan Khadijah menangis karena mengkhawatirkan keselamatan beliau. Abu bakar juga mengkhawatirkannya.
Sesampainya di lokasi, Nabi Muhammad Saw disambut hangat dan dipersilahkan duduk di sebuah kursi yang terbuat dari emas. Ketika beliau duduk, wajahnya memancarkan cahaya yang begitu indah dan berkilau, membuat semua yang hadir merasa terpukau dan terpesona menyaksikan keagungan beliau.
Di saat yang sama, Raja Habib bin Malik bertanya mengenai mukjizat Nabi Muhammad karena nabi sebelumnya juga memiliki mukjizat. Nabi pun mendengar dan mempersilahkan raja untuk menyampaikan permintaannya. Kemiudian raja meminta kepada Nabi Muhammad Saw untuk menenggelamkan matahari yang sedang bersinar lalu menggantikannya dengan bulan. Lalu ia meminta bulan tersebut diturunkan ke bumi dan dibelah menjadi dua bagian.
Raja Habib bin Malik meminta agar bulan yang telah dibelah itu dimasukkan ke dalam lengan kanan dan kiri Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia menginginkan Nabi mengeluarkan kembali kedua belahan bulan tersebut dan menyatukannya kembali. Selain itu, ia juga meminta agar Nabi memerintahkan bulan untuk mengakui beliau sebagai Rasul, dan yang terkahir bulan harus dikembalikan ke tempat asalnya di langit. Jika Nabi berhasil melakukan semua itu maka sang raja berjanji akan beriman dan mengakui kenabiannya.
Abu Jahal yang berada di sana, merasa gembira tatkala ia melihat permintaan dari raja terkesan mustahil. ia yakin Nabi Muhammad tidak bisa menuruti permintaan tersebut.
Kemudian Nabi Muhammad SAW kemudian menuju Gunung Abi Qubais yang terletak tidak jauh dari Masjidil Haram, tepatnya searah dengan Hajar Aswad dan dekat dengan Bukit Shafa. Di tempat tersebut, beliau menunaikan shalat dua rakaat dan memanjatkan doa kepada Allah SWT.
Setelah selesai berdoa, Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya seraya memohon agar Allah mengabulkan permintaan Raja Habib bin Malik. Pada saat itu, turunlah 12.000 malaikat yang membawa salam dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Para malaikat menyampaikan bahwa mereka selalu menyertai beliau dan bahwa segala ketentuan Allah telah ditetapkan sejak dahulu kala.
Malaikat-malaikat tersebut juga memerintahkan Rasulullah untuk menemui sang raja sebagai bukti kebenaran risalah yang beliau bawa. Mereka menjelaskan bahwa hanya Allah SWT yang berkuasa mengatur peredaran matahari dan bulan serta pergantian siang dan malam. Selain itu, mereka memberitahukan bahwa putri Raja Habib bin Malik yang sebelumnya terlahir tanpa tangan dan kaki serta mengalami kebutaan telah disembuhkan oleh Allah SWT. Kini ia dapat berjalan, meraba, dan melihat dengan sempurna sebagai tanda kekuasaan Allah dan bukti kenabian Muhammad SAW.
Ketika Rasulullah SAW mendatangi raja, matahari mulai terbenam dan suasana menjadi semakin gelap. Setelah beliau kembali berdoa, bulan muncul dengan cahaya yang sangat terang. Atas izin Allah SWT, bulan tersebut terbelah menjadi dua bagian. Nabi Muhammad SAW lalu memberikan isyarat dengan kedua jarinya sehingga kedua belahan bulan itu bergerak turun ke arahnya. Diiringi suara gemuruh dan awan yang mengiringinya, masing-masing bagian bulan masuk ke lengan kanan dan kiri Rasulullah sebagaimana permintaan sang raja.
Selanjutnya, Rasulullah SAW mengeluarkan kedua bagian bulan tersebut dari lengannya dan menyatukannya kembali hingga utuh seperti semula. Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu dibuat takjub dan terheran-heran. Pada saat yang sama, bulan mengucapkan kalimat syahadat dengan suara yang jelas, “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah,” sebagai pengakuan atas keesaan Allah SWT dan kerasulan Nabi Muhammad SAW.
Mukjizat luar biasa tersebut membuat seluruh orang yang hadir tercengang. Mereka menyadari bahwa apa yang mereka lihat bukanlah khayalan ataupun mimpi, melainkan sebuah kenyataan. Raja Habib bin Malik pun memahami bahwa kejadian tersebut tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa ataupun ahli sihir. Meski demikian, ia masih ingin memperoleh keyakinan yang lebih kuat.
Sebelum sang raja menyampaikan keinginannya, Rasulullah SAW terlebih dahulu memberitahukan bahwa putrinya yang selama ini mengalami cacat telah disembuhkan oleh Allah SWT. Mendengar hal itu, Raja Habib bin Malik sangat terkejut karena hanya orang-orang tertentu yang mengetahui kondisi putrinya. Kabar tersebut membuatnya sangat bahagia hingga mengajak masyarakat Makkah meninggalkan keyakinan lama mereka dan memeluk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
Sementara itu, Abu Jahal menolak mempercayai kejadian tersebut dan menganggapnya sebagai sihir. Namun ketika Raja Habib bin Malik kembali ke istananya, ia disambut oleh putrinya yang kini telah memiliki tubuh sempurna. Putrinya mengucapkan syahadat dan menceritakan bahwa ia pernah bermimpi bertemu seorang laki-laki tampan yang mengabarkan bahwa ayahnya telah memeluk Islam. Dalam mimpi itu juga disampaikan bahwa apabila ia bersedia menjadi seorang muslimah dan mengucapkan syahadat, Allah akan menyempurnakan kondisi fisiknya. Mendengar kesaksian putrinya, sang raja semakin yakin akan kebesaran Allah SWT dan segera bersujud sebagai ungkapan syukur.
Kisah Nabi Muhammad SAW membelah bulan menjadi salah satu bukti nyata kekuasaan Allah SWT. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mustahil bagi Allah. Dia mampu mewujudkan segala kehendak-Nya sebagai pertolongan dan bukti kebenaran bagi hamba-hamba yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.








