Dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah, pasti kita akan lebih banyak beribadah dari yang biasanya. Diantaranya adalah merutinkan sholat dhuha. Selain dapat mendekatkan diri kepada Allah, shalat dhuha juga dikenal sebagai ibadah penarik rezeki. yuk kita simak
Kisah Abu Hurairoh
Kisah tentang Abu Hurairah ini menjadi teladan luar biasa tentang amanah dan kesederhanaan dalam hidup, meskipun berada di posisi yang tinggi.
Abu Hurairah pernah dipercaya menjadi gubernur di Bahrain dan Madinah. Jabatan itu tentu membuka peluang besar untuk hidup mewah dan mengumpulkan harta. Namun, ia memilih jalan yang berbeda. Ia tetap hidup zuhud, sederhana seperti ketika bersama Nabi Muhammad.
Makanannya sederhana, pakaiannya pun biasa. Harta yang ia peroleh tidak ia gunakan untuk memperkaya diri, melainkan banyak diinfakkan di jalan Allah. Bahkan dalam menafkahi keluarganya, ia lebih memilih menggunakan hasil kerja pribadinya, bukan memanfaatkan jabatannya.
Ada kisah menyentuh ketika putrinya pernah diejek oleh teman-temannya karena tidak memakai perhiasan, padahal ia anak seorang pejabat. Namun, justru di situlah terlihat betapa kuatnya prinsip hidup Abu Hurairah—tidak tergoda oleh kemewahan dunia.
Selain itu, ia juga sangat menjaga waktunya. Hari-harinya dipenuhi dengan ibadah dan amal kebaikan. Ia rutin berpuasa ayyamul bidh, mengerjakan shalat dhuha, dan di sepertiga malam terakhir ia membangunkan keluarganya untuk shalat tahajud. Semua itu ia lakukan sebagai bentuk kesungguhan dalam mengamalkan hadits-hadits yang ia riwayatkan.
Kisah ini mengajarkan bahwa jabatan bukanlah alasan untuk hidup berlebihan. Justru semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya di hadapan Allah. Kesederhanaan, kejujuran, dan konsistensi dalam ibadah adalah kunci keberkahan hidup.
Kisah Sandiaga Uno
Kisah tentang Sandiaga Uno sering dijadikan contoh bagaimana ikhtiar lahir dan batin berjalan beriringan, salah satunya melalui amalan shalat dhuha.
Dalam beberapa kesempatan, Sandiaga Uno pernah berbagi bahwa di masa sulit—terutama saat usahanya mengalami tekanan dan ia harus bangkit dari keterpurukan—ia mulai lebih mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu amalan yang ia jaga adalah shalat dhuha.
Ia meyakini bahwa shalat dhuha bukan sekadar ibadah sunnah, tetapi juga menjadi “pintu pembuka rezeki”. Dengan konsisten melaksanakannya, hati menjadi lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan langkah dalam mencari solusi terasa lebih terarah.
Sandiaga juga menekankan bahwa setelah shalat dhuha, ia berusaha tetap produktif: bekerja keras, disiplin, dan terus mencari peluang. Baginya, shalat dhuha bukan pengganti usaha, melainkan penguat usaha itu sendiri.
Dari kebiasaan tersebut, perlahan kondisi hidupnya membaik. Ia mampu bangkit, mengembangkan bisnis, hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu pengusaha sukses di Indonesia dan kemudian terjun ke dunia pemerintahan.
Kisah ini memberi pelajaran bahwa:
- Shalat dhuha bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah
- Ketenangan batin sangat berpengaruh pada keputusan hidup
- Rezeki tidak hanya datang dari kerja keras, tetapi juga dari keberkahan
- Ikhtiar harus seimbang antara usaha dan doa
Intinya, seperti yang sering disampaikan Sandiaga Uno, “ikhtiar langit” (doa dan ibadah) harus sejalan dengan “ikhtiar bumi” (usaha nyata).








