Saat ini kita sudah memasuki bulan Dzulhijjah. Banyak amalan yang bisa kita kerjakan selama Bulan Dzulhujjah. Salah satunya adalah berkurban. Ibadah Qurban merupakan salah satu amalan yang sangat mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam, khususnya Hari Raya Idul Adha dan hari hari tasyrik. Melalui ibadah kurban, seorang Muslim diajarkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan penuh ketaatan dan pengorbanan.
Hukum Kurban
Ibadah Kurban hukumnya sunnah Muakkad. Nabi Muhammad Saw tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sampai beliau wafat. Ketentuan kurban sebagai sunnah muakkad dikukuhkan oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’i. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan safar (bepergian), hukumnya adalah wajib. (Ibnu Rusyd al-Hafid: tth: 1/314).
Keutamaan Kurban
berkurban juga mengajarkan tentang keikhlasan hati. Saat seseorang mengeluarkan sebagian hartanya untuk membeli hewan kurban, ia sedang belajar untuk tidak terlalu mencintai dunia. Harta yang dimiliki hanyalah titipan dari Allah SWT, sehingga sebagian darinya harus digunakan di jalan kebaikan. Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,
“Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117)
Menurut Zain Al-arab, ibadah yang paling utama pada hari raya Idul Adha adalah menyembelih hewan kurban karena Allah. Sebab pada hari kiamat, hewan tersebut akan mendatangi orang yang menyembelihnya dalam keadaan utuh seperti di dunia, setiap anggotanya tidak ada yang kurang sedikitpun dan semuanya akan menjadi pahala baginya. digambarkan hewan tersebut akan menjadi kendaraan untuk berjalan melewati sirath.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Siapa yang memiliki kemampuan untuk berkurban, tetapi ia tidak mau berkurban, maka sesekali janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Ibadah kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai hari tasyrik, tiada lain bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, kurban juga berarti menghilangkan sikap egoisme, nafsu serakah, dan sifat individual dalam diri seorang muslim. Dengan berkurban, diharapkan seseorang akan memaknai hidupnya untuk mencapai ridha Allah semata. Ia “korbankan” segalanya (jiwa, harta, dan keluarga) hanya untuk-Nya. Oleh karena itu, pada hakikatnya, yang diterima Allah dari ibadah kurban itu bukanlah daging atau darah hewan yang dikurbakan, melainkan ketakwaan dan ketulusan dari orang yang berkurban, itulah yang sampai kepada-Nya.








