Arti Orang Kuat dalam Islam
Menurut pandangan Islam, orang yang paling kuat bukanlah mereka yang memiliki fisik kekar atau selalu menang dalam pertarungan, namun orang kuat adalah yang mampu mengendalikan diri ketika marah. Rasulullah SAW bersabda
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قال: “لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرُعة، وَلَكِنَّ الشَّدِيدَ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ”.
“Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.” (HR Bukhari dan Muslim).
Islam mengukur kekuatan sejati dari kestabilan jiwa dan kemampuan menundukkan ego (hawa nafsu). Mengalahkan musuh secara fisik seringkali hanya mengandalkan otot atau insting semata. Sebaliknya, menahan amarah yang sedang memuncak membutuhkan perjuangan batin (mujahadah an-nafs) yang jauh lebih berat.
Seseorang yang bisa bersabar, menahan diri, dan memaafkan di saat ia sebenarnya punya kemampuan untuk melampiaskan amarahnya, dianggap sebagai pemenang sejati yang berhasil mengalahkan musuh terbesarnya: dirinya sendiri.
Bahaya Amarah yang Tidak Terkendali
Amarah yang tidak terkendali adalah pemicu terbukanya pintu keburukan. Bahkan para ulama telah memperingatkan ketika seseorang sedang marah, setan akan mempermainkannya layaknya anak kecil mempermainkan bola. Contohnya seperti suami Istri bercerai karena tidak bisa menahan luapan emosi, pelajar tawuran hanya karena saling pandang, dan masih banyak lagi.
Cara mengendalikan Amarah
Berikut adalah cara Rasulullah dalam mengendalikan amarah.
Membaca Ta’awudz
Dari sahabat Sulaiman bin Surd, beliau menceritakan, “Suatu hari saya duduk bersama Rasulullah SAW. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah bersabda: “Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A-‘uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Berusaha Diam dam Menjaga Lisan
Diam merupakan perbuatan mulia dan salah satu cara untuk mengantisipasi muncul luapan amarah. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
Rasulullah juga mengingatkan, “Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Mengambil Posisi Lebih Rendah
Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi, dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya. Rasulullah bersabda: “Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).
Mengingat Hadist ini Ketika Marah
Dari Muadz bin Anas Al-Juhani, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.” (HR. Abu Daud, Turmudzi)
Berwudhu atau Mandi
Marah itu datangnya dari setan dan setan diciptakan dari api. Maka orang yang marah dianjurkan berwudhu atau mandi untuk memadamkan amarahnya. Dari Urwah As-Sa’di, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).









