Setiap manusia ingin sekali memiliki akhlak yang mulia. Sebagai penutup para nabi, Rasulullah SAW memiliki akhlak mulia dan menjadi suri tauladan bagi umatnya. Namun, Rasulullah memperingatkan akan bahaya mempunyai sifat buruk ini, yaitu sifat hasad. Rasulullah SAW bersabda
“Jauhilah hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”(HR. Abu Dawud, no. 4903)
Apa itu Hasad?
Hasad adalah perasaan iri dan dengki terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, disertai keinginan agar nikmat tersebut hilang dari pemiliknya. Sikap ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti merasa tidak senang ketika orang lain memperoleh keberhasilan, kebahagiaan, rezeki, maupun kedudukan yang lebih baik.
Didalam islam, Hasad termasuk perilaku yang tercela karena dapat merusak hati, menumbuhkan kebencian, dan merenggangkan hubungan sosial antara sesama manusia. Orang yang hasad sulit untuk mensyukuri nikmat Allah dan mereka cenderung membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Padahal, setiap manusia telah mendapatkan ketentuan rezeki dan karunia dari Allah SWT sesuai dengan kehendak-Nya.
Dosa Pertama yang Dilakukan Manusia
Dalam ajaran Islam, hasad atau iri hati merupakan salah satu penyakit hati yang banyak mendapat perhatian dari para ulama. Hal ini karena hasad tidak hanya merusak hubungan seorang hamba dengan Allah Swt., tetapi juga dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan sosial. Sifat iri hati dapat memicu kebencian, mengikis rasa saling percaya, serta melemahkan semangat kebersamaan dan kerja sama di tengah masyarakat.
Bahkan menurut sebagian ulama salaf, dosa pertama yang dilakukan oleh makhluk kepada Allah Swt disebabkan sifat hasad.
“Sebagian ulama salaf berkata: dosa pertama yang dilakukan ialah hasad yaitu hasad yang dilakukan oleh Iblis kepada Adam as atas kedudukannya. Iblis enggan sujud menghormati Adam atas perintah Allah yang mendorongnya melakukan hasad dan maksiat.” (Al-Ghazali, 672)
Kisah yang diabadikan di dalam Al-Quran, pembunuhan pertama oleh anak Nabi Adam yaitu Qobil terhadap Habil juga akibat sifat hasad.
Apa yang Dirasakan Seorang yang Hasad
Biasanya seorang yang hasad akan merasakan siksaan batin yang terus-menerus. ia merasa tidak senang, tertekan, dan panas ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, kebahagiaan, atau kesuksesan. Ia cenderung terus-menerus membandingkan hidupnya dengan orang lain. ia akan merasa senang jika orang yang didengkinya mendapatkan musibah, sebaliknya ia akan menderita jika orang itu senang. ia tidak segan menjatuhkan dan menjelek-jelekan orang itu dibelakangnya, namun didepannya ia merasa tidak ada masalah. Maka dari itu, sifat hasad lebih dekat dengan kemunafikan.
Cara Mengatasi Sifat Hasad
Rasulullah SAW telah memperingatkan umatnya agar menjauhi sifat hasad (dengki) karena sifat ini dapat merusak hubungan persaudaraan. bahkan sifat hasad ini juga dapat menghapus pahala kebaikan, Rasulullah SAW bersabda
“Jauhilah hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud, no. 4903)
dalam hadist lain disebutkan
“Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lain.” (HR. Muslim, no. 2564).
Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya berusaha membersihkan hatinya agar terhindar dari sifat hasad dan mampu menerima ketetapan Allah SWT dengan lapang dada.
Berikut beberapa cara mengatasi hasad dalam kehidupan sehari-hari.
Memperbanyak rasa Syukur kepada Allah SWT
Salah satu cara mengatasi hasad adalah membiasakan diri untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT berikan. Daripada terus membandingkan kehidupan dengan orang lain, seorang Muslim hendaknya menyadari bahwa setiap manusia memiliki rezeki, kelebihan, dan ujian yang berbeda-beda.
Menyadari bahwa Setiap Nikmat adalah Ketetapan Allah
Setiap nikmat yang dimiliki seseorang merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT. Ada orang yang diberikan kekayaan, ada yang dianugerahi ilmu, dan ada pula yang mendapatkan kelebihan dalam bidang lainnya. Perbedaan tersebut hendaknya menjadi pengingat bahwa Allah memberikan karunia kepada manusia sesuai dengan kehendak-Nya.
Mendoakan Kebaikan bagi Orang yang Membuat Kita Iri
Ketika muncul rasa iri terhadap keberhasilan seseorang, cobalah melawan perasaan tersebut dengan mendoakan kebaikan baginya. Misalnya, ketika melihat orang lain mendapatkan pekerjaan yang baik, memperoleh rezeki melimpah, atau meraih prestasi, ucapkan doa agar Allah memberkahinya.
Menjauhi Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain, terutama berdasarkan harta, jabatan, penampilan, atau pencapaian, dapat memicu tumbuhnya hasad. Terlebih lagi, apa yang terlihat di hadapan kita belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang.
Oleh karena itu, fokuslah pada proses memperbaiki diri dan mensyukuri kemampuan yang telah dimiliki. Jadikan keberhasilan orang lain sebagai motivasi untuk berusaha lebih baik, bukan sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri atau membencinya.
Memperbanyak Istigfar dan Mendekatkan Diri Kepada Allah
Memperbanyak istigfar, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan menjaga salat merupakan upaya untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Melalui ibadah, seorang Muslim dapat belajar mengendalikan hawa nafsu, memperbaiki akhlak, dan memohon pertolongan Allah agar hatinya terhindar dari penyakit hati.
Salah satu doa yang dapat diamalkan adalah doa dalam Surah Al-Hasyr ayat 10:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Artinya:
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).
Mengubah rasa iri menjadi motivasi untuk berbuat baik
Tidak semua perasaan ingin memiliki sesuatu seperti orang lain harus berujung pada hasad. Jika melihat seseorang memiliki ilmu yang luas, jadikan hal tersebut sebagai dorongan untuk belajar. Jika melihat orang lain gemar bersedekah, tumbuhkan keinginan untuk ikut berbagi sesuai kemampuan.
Dalam Islam, keinginan memperoleh kebaikan serupa tanpa mengharapkan nikmat orang lain hilang dikenal sebagai ghibthah. Sikap ini berbeda dari hasad yang tercela karena tidak disertai keinginan agar orang lain kehilangan karunianya.
Kesimpulan
Dari ulasan diatas, kita memahami bahwa hasad adalah penyakit hati yang apabila dibiarkan akan sangat berbahaya bagi dirinya maupun bagi orang lain. Ketika hasad muncul, jangan biarkan perasaan tersebut berkembang menjadi kebencian. Sebaliknya, jadikanlah sebagai kesempatan untuk bermuhasabah dan memperbaiki diri. Dengan demikian kita akan menjadi tenang dan menerima apa yang Allah tetapkan kepada kita.









