Setiap manusia memiliki permasalahan hidupnya masing-masing. Di setiap permasalahan, ada kalanya ujian hidup membuat seseorang berputus asa. Dalam Islam, setiap muslim diajarkan untuk selalu bersandar dan berharap hanya kepada Allah semata. Saat sedang sedih dan terpuruk, Allah yang menjadi penyelamat dan bisa membantu umat-Nya menyelesaikan apa pun masalah mereka.
Sayyidina Ali pernah berkata:
“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.” (Ali bin Abi Thalib)
Imam Syafi’i berkata:
“Ketika kamu berlebihan berharap pada seseorang, maka Allah akan timpakan padamu pedihnya harapan-harapan kosong. Allah tak suka bila ada yang berharap pada selain Dzat-Nya, Allah menghalangi cita-citanya supaya ia kembali berharap hanya kepada Allah SWT.”
Inilah yang terjadi ketika kita berharap kepada selain Allah. Jika kita berharap kepada selain Allah (berharap kepada manusia) bukan hanya harapan yang tidak kunjung terkabul, tetapi kita akan merasa kecewa, sedih dan marah. Sebabnya karena kita terlalu menggantungkan harapan yang tinggi kepada manusia.
Berharap kenaikan gaji, atau berharap mendapatkan promosi misalnya. Jika kita bersandar kepada atasan kita dan berharap cita cita akan dikabulkan, yang ada ialah rasa kecewa, marah dan sedih. Karena belum tentu kita mendapatkannya atau orang lain sudah mendapatkannya lebih dahulu.
Sebaliknya jika kita bersandar kepada Allah yang Maha Mengabulkan doa hamba-Nya lagi Maha Mengetahui, kita akan merasakan ketenangan batin karena kita yakin doa dan keinginan kita pasti dikabulkan oleh Allah dan pasti kita akan mendapatkannya.
Ayat-ayat tentang Berharap Kepada Allah Semata
Al Ikhlas ayat 2-4
اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ (4)
Artinya: “Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”
Seorang Muslim harus meyakini bahwa hanya Allah SWT tempat kita bersandar, bergantung, berharap, tempat meminta pertolongan. Hanya kepada Allah lah tempat kita meminta tanpa perantara, bahkan perantara manusia sekalipun.
Al-Insyirah ayat 8
وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ
Artinya: “Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”
Merujuk pada tafsir Kemenag, lewat ayat ini Allah SWT berpesan kepada Nabi Muhammad SAW supaya berfokus mencari rida Allah saja. Alasannya sangat jelas, karena memang hanya kepada Sang Penciptalah tempat manusia patut berserah dan merendahkan diri.
Al-Maidah ayat 23
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Artinya: “Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, ‘Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.
Ayat ini menjelaskan sudah sepantasnya umat muslim untuk bertawakal hanya kepada Allah semata
Al Ankabut ayat 41
مَثَلُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْلِيَاۤءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوْتِۚ اِتَّخَذَتْ بَيْتًاۗ وَاِنَّ اَوْهَنَ الْبُيُوْتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوْتِۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”
Perumpamaan kaum musyrikin yang menyembah berhala atau sesembahan selain Allah adalah bagaikan sarang laba-laba. Kiasan ini menggambarkan secara nyata bahwa tempat bernaung atau perlindungan dan tempat menggantungkan harapan tersebut sejatinya adalah yang paling rapuh, lemah, dan tidak berdaya.









