Ditengah hiruk pikuk dunia, manusia dituntut harus bisa beradaptasi di setiap lingkungan. ada yang merawat fisik dan penampilannya agar terlihat menarik di tatapan orang lain. Namun tak sedikit dari mereka lupa untuk menjaga hati (qalb). menjaga hati menurut islam sangatlah penting, karena hati merupakan pusat kendali dari perasaan dan pemikiran setiap manusia. Rasulullah SAW bersabda :
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ [1]
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Namun, jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hati adalah pusat kendali seorang mukmin. Ketika hati hidup, iman akan bersinar. Namun, seiring berjalannya waktu, dosa yang menumpuk dan kelalaian bisa membuat hati menjadi lemah, keras, bahkan “mati”. Lantas, apa saja tanda-tanda hati yang mati, dan bagaimana cara kita menyiramnya agar kembali hidup?
Tanda-tanda Hati yang Mati
Malas dan Merasa Berat untuk Beribadah kepada Allah
Beribadah seperti shalat berjamaah yang biasa dilakukan oleh orang mukmin, menjadi sangat berat untuk dilakukan oleh orang yang mempunyai penyakit di dalam hati. sebagaimana firman Allah
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah SWT, tetapi Allah SWT membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah SWT, kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)
Lebih Memilih Dunia Ketimbang Akhirat
Bayangkan ketika seseorang lebih mengutamakan dunia dibanding akhirat, maka hidupnya tidak pernah puas dengan apa yang di dapatkan. itu dikarenakan Allah telah mengacaukan semua urusannya di dunia menjadi tercerai berai (berantakan) sebagaimana hadist Rasulullah SAW ini. beliau bersabda
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ صَبِيحٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبَانَ، وَهُوَ الرَّقَاشِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ” مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
“Siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah menjadikan kekayaannya dalam hatinya, dan mengatur urusannya, dan dunia datang kepadanya meskipun ia tidak menginginkannya. Dan siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah menempatkan kemiskinannya di depan matanya, dan mengacaukan urusannya, dan dunia tidak datang kepadanya, kecuali apa yang telah ditentukan untuknya.” (HR. Tirmidzi No. 2465)
Tidak Segan Mengulangi Perbuatan Dosa
Orang beriman seharusnya malu kepada Allah SWT jika ia berbuat maksiat. Namun ketika seseorang bermaksiat tanpa rasa bersalah, dan terus mengulangi maksiat maka seolah olah titik hitam bertambah banyak sampai menutupi hatinya. Dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ، عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ : ( كلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ) ” . قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ .
“Sesungguhnya, ketika seorang hamba (Allah) melakukan dosa, maka akan muncul titik hitam di hatinya. Ketika ia menahan diri, memohon ampun, dan bertobat, hatinya akan bersih kembali. Namun jika ia kembali, maka titik tersebut akan bertambah hingga menutupi seluruh hatinya. Dan itulah ‘Ran’ yang disebutkan Allah: ‘Sekali-kali tidak, tetapi pada hati mereka ada Ran yang mereka peroleh.” (HR. Tirmidzi No. 3334)
Cara Menghidupkan Hati Kembali
Masih ingat kah dengan lagu “Tombo Ati”? Lagu yang dipopulerkan oleh Opick berjudul Tombo ati atau “Obat hati” ini berisi tentang cara mengobati hati. Syair- syair lagu tersebut sesuai dalam kitab Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab yang merupakan kumpulan risalah Ibnu Rajab al-Hanbali (1335-1393 M). Selain dalam karya Ibnu Rajab, ajaran ini juga ditemukan sebagai nasehat Ibrahim al-Khawash (wafat 903 M) yang dikutip dalam kitab Dzam al-Hawa karya Ibnu Jauzi (1116-1201 M), nasehat ini juga diberikan oleh Yahya bin Mu’adz ar-Razi (830-871 M) yang ditulis dalam karyanya, kitab Dzam Qaswat al-Qalb. Berikut adalah cara menghidupkan atau mengobati hati
Membaca Alquran dan Maknanya
Membaca Alquran dan merenungi terjemahannya (taddabur) dapat menghidupkan hati yang sudah lama kering. Karena Alquran merupakan Kalamullah dan juga obat bagi penyakit di dalam dada. Allah SWT berfirman
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌۭ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit (yang berada) di dalam dada.” (QS. Yunus: 57)
Mendirikan Shalat Malam
Bangun di sepertiga malam serta bermunajat kepada Allah merupakan terapi yang kuat dalam mengobati hati yang sakit. Selain karena di waktu malam hari yang lebih tenang dan damai, seseorang yang selalu menjaga shalat malam ini maka urusan dunianya akan selalu dibimbing Allah dan ditempatkan ke tempat yang terbaik. Shalat malam juga adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memohon ampun kepada-Nya.
Berkumpul dengan Orang Orang Shaleh
Sungguh beruntung mempunyai teman atau sahabat yang shaleh, karena mereka yang akan menasehati kita dikala sedih atau kesusahan baik di dunia maupun di akhirat. Tentu saja sesuai dengan tuntunan syariat Islam.
Rasulullah SAW. bersabda:
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Seseorang berada dalam agama sahabatnya, maka hendaklah ia melihat siapa yang dijadikannya sahabat.” (HR. Abu Dawud, no. 4833)
Berpuasa
berpuasa tidak hanya menyehatkan, tetapi juga melembutkan hati. hati yang sangat keras dan susah untuk menerima kebenaran, dapat dilembutkan dengan cara berpuasa. Allah SWT langsung memberi ganjaran pahala apabila seseorang melaksanakan ibadah puasa ini
Berdzikir di Waktu Malam
Memperpanjang malam dengan cara berzikir adalah salah satu cara dalam mengobati hati. Dengan berdzikir, seseorang akan mengingat posisinya dihadapan Allah serta menjadi pembeda antara orang hidup dan orang mati.
Rasulullah SAW. bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُهُ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan yang tidak berdzikir adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Bukhari, no. 6407)
Kesimpulan
Menjaga hati pada dasarnya ialah menjaga diri kita agar tidak tenggelam dalam kubangan maksiat yang dibenci oleh Allah baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari kesedihan, putus asa, rasa bersalah dan berbagai penyakit hati lainnya agar hidup kita senantiasa diberkahi oleh Allah SWT dan selalu diberi petunjuk yang lurus ini.









