Biasanya, fakta Al-Quran yang kita ketahui baru sebatas kedudukannya sebagai yang tertinggi di antara kitab-kitab samawi lainnya mengingat tujuan penurunannya untuk menyempurnakan keluaran-keluaran sebelumnya (Taurat, Zabur, dan Injil).
Fakta Al-Quran lainnya paling peruntukannya yang tidak terbatas pada satu golongan, akan tetapi untuk seluruh manusia. Juga fakta bahwa keaslian/ otentisitasnya tidak pernah berubah sejak awal diturunkan.
Namun di luar itu, kebanyakan muslim tidak mengetahui fakta-fakta lainnya. Karenanya Sahabat Wakaf memilih untuk membaca artikel ini sampai selesai, ya kan?
Untuk Sahabat kami yang ingin mengenal lebih mendalam mengenai kitab suci kita bersama ini, teruslah gulir layarmu!
Keep scrolling!
Fakta Al Quran yang pertama, asal-muasal “Al-Quran”
Yang akan kamu pelajari
TogglePerihal penamaan Al-Quran, ternyata ulama berbeda-beda pendapat mengenai asal kata dan makna “Al-Quran”. Cuman, sebagaimana yang tertulis di dalam Kitab At-Tibyan fi Ulumul Quran, secara garis besar mereka terbagi menjadi 2 kelompok.

Pertama, ulama-ulama yang sepaham dengan Imam Syafi’i dan Imam Ibnu Katsir yang meyakini bahwasanya nama “Al-Quran” bukanlah dari bahasa Arab.
Berdasarkan hasil-hasil kajian mereka, “Al-Quran” adalah nama pemberian Allah swt. langsung. Oleh karenanya hingga sekarang, bagi mereka, Al-Quran masih belum diketahui artinya.
Meski berbeda terkait dengan penamaan Al-Quran, namun mereka tetap yakin akan kebahasaaraban Al-Quran.
Mereka berkeyakinan jika Al-Quran tidak terucapkan dalam bahasa Arab yang jelas (fusha), tentu akan mudah bagi Kafir Quraisy mematahkan ajakan dakwah Nabi Muhammad saw.
Lalu, mereka yang menyelisihi Imam Syafi'i dan Imam Ibnu Katsir
Kelompok kedua, kelompok yang meyakini seluruh arti dan makna di dalam Al-Quran berasal dari Bahasa Arab. Mereka digolongkan ke dalam 3 golongan merujuk pada pemilihan asal kata dan makna “Al-Quran”.
Golongan pertama ialah mereka yang meyakini akar kata Al-Quran itu dari kata “qara’a” yang berarti “baca”. Dari sanalah Al-Quran dimaknai sebagai “bacaan”/ “yang dibaca”.
Yang kedua yang sama-sama meyakini bahwa akar katanya adalah “qara’a”, akan tetapi dengan arti “mengumpulkan”. Bagi mereka Al-Quran bermakna “kumpulan kalam Allah”.
Dan terakhir golongan berpendapat akar katanya itu “qarana”. Mereka memang mengambil akar kata yang berbeda, namun maknanya sama seperti golongan di atas,
sama-sama dimaknai sebagai “kumpulan kalam Allah” juga.
Fakta kedua, kelompok-kelompok surat di dalam Al Quran
Bukan hanya pengajarnya (baca: ulama) saja yang berkelompok, melainkan surat-surat di dalamnya juga ‘dikotak-kotakan’.
Sederhananya, pengelompokan surat di dalam Al-Quran ada yang didasarkan pada waktu penurunan serta pada penyusunannya. Alias pada kronologi dan sistematikanya.
A. Makkiyah/ Madaniyah
Secara kronologinya, surat-surat Al-Quran yang turun sebelum Rasulullah hijrah digolongkan ke dalam Surat Makkiyah, dan sebaliknya digolongkan ke dalam Surat Madaniyah.
Mengingat waktu penurunannya makanya Surat Makkiyah seringnya membahas ihwal ketauhidan, menyeru manusia pada umumnya (“ya ayyuhan nas”), dan jumlah ayatnya tidak sepanjang Surat Madaniyah.
Adapun contoh Surat Makkiyah yaitu Al Fatihah, Al Iqro, dan 3 qulhu.

Sedangkan Surat Madaniyah memiliki corak bahasannya kemasyarakatan, lebih ditujukan kepada umat Islam (“ya ayyuhalladzina amanu”), dengan jumlah ayat panjang-panjang.
Contoh suratnya itu Surat Al Baqarah, Ali Imran, dan Al Nisa.
B. As-Sab’u/ Al-Main/ Al-Mutsanna/ Al-Mufashal
Di luar itu, secara sistematikanya Al-Quran yang lestari hingga ke tangan kita ialah hasil penyusunan para sahabat Nabi yang kemudian diresmikan di masa Khalifah Utsman bin Affan ra.
Makanya Al-Quran kita disebut dengan Mushaf Utsmani.
Salah satu ciri terkhasnya Mushaf Utsmani terletak pada sistematikanya. Awal Al-Quran dimulai dari Surat Al-Fatihah, lalu Surat-surat Al-Sab’u, Al-Main, Al-Mutsanna, dan baru ditutup dengan Al-Mufashal.
Sistematika seperti itu terilhami dari hadits-hadits berkenaan Al-Fatihah dan berikut:
1. Surat Al-Fatihah
Surat Al-Fatihah diletakkan di depan dikarenakan, bisa dibilang, surat inilah satu-satunya surat yang wajib dihafal oleh setiap orang Islam. Alasannya karena setiap rakaat shalat yang tidak dilafalkan Al-Fatihah maka rakaatnya tidak sah.
2. Surat-surat As-Sab’u
As-Sab’u di sini berbeda dengan “As-Sab’ul Matsani” yang di atas. As-Sab’u, alias 7 surat terpanjang, terdiri dari Surat Al-Baqarah (2), Ali Imran (3), An-Nisa (4), Al-Maidah (5), Al-An’am (6), Al-A’raf (7), dan Al-Anfal (8) + At-Taubah (10).
Iya, pada awalnya Mushaf Utsmani mengelompokkan surah ke 8 dan 9 tersebut sebagai satu surah.
Peletakan As-Sab’u setelah Al-Fatihah merujuk pada hadits Nabi saw. berikut:
3. Surat Al Main
Berikutnya surat-surat pengganti Zabur, yaitu Surat-surat Al-Main. Kelompok kedua ini juga terdiri dari 7 surat yang dimulai dari Surat Yunus hingga Surat An-Nahl (16).
4. Surat Al Matsani
Lalu para pengganti Injil, Al-Matsani. Jumlah Surat-surat Al-Matsani banyaknya hampir 5 kali lipat dari kelompok sebelumnya, tepatnya 33 surat mulai dari Surat Bani Israil (17) hingga surat ke 49 Surat Al-Hujurat.
5. Surat Al Mufashal
Dan di posisi terakhir diletakkanlah keunggulan Al-Quran dibandingkan 3 kitab sebelumnya, yakni kelompok Al-Mufashal. Di sinilah berdiri surat terbanyak, hingga lebih dari 60 surat.
Al-Mufashal diawali Surat Qaf (50) dan ditutup surat terakhir Surat An-Nas.
Biasanya, fakta Al-Quran yang kita ketahui baru sebatas kedudukannya sebagai yang tertinggi di antara kitab-kitab samawi lainnya mengingat tujuan penurunannya untuk menyempurnakan keluaran-keluaran sebelumnya (Taurat, Zabur, dan Injil).
Fakta Al-Quran lainnya paling peruntukannya yang tidak terbatas pada satu golongan, akan tetapi untuk seluruh manusia. Juga fakta bahwa keaslian/ otentisitasnya tidak pernah berubah sejak awal diturunkan.
Namun di luar itu, kebanyakan muslim tidak mengetahui fakta-fakta lainnya. Karenanya Sahabat Wakaf memilih untuk membaca artikel ini sampai selesai, ya kan?
Untuk Sahabat kami yang ingin mengenal lebih mendalam mengenai kitab suci kita bersama ini, teruslah gulir layarmu!
Keep scrolling!
Fakta Al Quran yang pertama, asal-muasal “Al-Quran”
Perihal penamaan Al-Quran, ternyata ulama berbeda-beda pendapat mengenai asal kata dan makna “Al-Quran”. Cuman, sebagaimana yang tertulis di dalam Kitab At-Tibyan fi Ulumul Quran, secara garis besar mereka terbagi menjadi 2 kelompok.

Pertama, ulama-ulama yang sepaham dengan Imam Syafi’i dan Imam Ibnu Katsir yang meyakini bahwasanya nama “Al-Quran” bukanlah dari bahasa Arab.
Berdasarkan hasil-hasil kajian mereka, “Al-Quran” adalah nama pemberian Allah swt. langsung. Oleh karenanya hingga sekarang, bagi mereka, Al-Quran masih belum diketahui artinya.
Meski berbeda terkait dengan penamaan Al-Quran, namun mereka tetap yakin akan kebahasaaraban Al-Quran.
Mereka berkeyakinan jika Al-Quran tidak terucapkan dalam bahasa Arab yang jelas (fusha), tentu akan mudah bagi Kafir Quraisy mematahkan ajakan dakwah Nabi Muhammad saw.
Lalu, mereka yang menyelisihi Imam Syafi'i dan Imam Ibnu Katsir
Kelompok kedua, kelompok yang meyakini seluruh arti dan makna di dalam Al-Quran berasal dari Bahasa Arab. Mereka digolongkan ke dalam 3 golongan merujuk pada pemilihan asal kata dan makna “Al-Quran”.
Golongan pertama ialah mereka yang meyakini akar kata Al-Quran itu dari kata “qara’a” yang berarti “baca”. Dari sanalah Al-Quran dimaknai sebagai “bacaan”/ “yang dibaca”.
Yang kedua yang sama-sama meyakini bahwa akar katanya adalah “qara’a”, akan tetapi dengan arti “mengumpulkan”. Bagi mereka Al-Quran bermakna “kumpulan kalam Allah”.
Dan terakhir golongan berpendapat akar katanya itu “qarana”. Mereka memang mengambil akar kata yang berbeda, namun maknanya sama seperti golongan di atas,
sama-sama dimaknai sebagai “kumpulan kalam Allah” juga.
Fakta kedua, kelompok-kelompok surat di dalam Al Quran
Bukan hanya pengajarnya (baca: ulama) saja yang berkelompok, melainkan surat-surat di dalamnya juga ‘dikotak-kotakan’.
Sederhananya, pengelompokan surat di dalam Al-Quran ada yang didasarkan pada waktu penurunan serta pada penyusunannya. Alias pada kronologi dan sistematikanya.
A. Makkiyah/ Madaniyah
Secara kronologinya, surat-surat Al-Quran yang turun sebelum Rasulullah hijrah digolongkan ke dalam Surat Makkiyah, dan sebaliknya digolongkan ke dalam Surat Madaniyah.
Mengingat waktu penurunannya makanya Surat Makkiyah seringnya membahas ihwal ketauhidan, menyeru manusia pada umumnya (“ya ayyuhan nas”), dan jumlah ayatnya tidak sepanjang Surat Madaniyah.
Adapun contoh Surat Makkiyah yaitu Al Fatihah, Al Iqro, dan 3 qulhu.

Sedangkan Surat Madaniyah memiliki corak bahasannya kemasyarakatan, lebih ditujukan kepada umat Islam (“ya ayyuhalladzina amanu”), dengan jumlah ayat panjang-panjang.
Contoh suratnya itu Surat Al Baqarah, Ali Imran, dan Al Nisa.
B. As-Sab’u/ Al-Main/ Al-Mutsanna/ Al-Mufashal
Di luar itu, secara sistematikanya Al-Quran yang lestari hingga ke tangan kita ialah hasil penyusunan para sahabat Nabi yang kemudian diresmikan di masa Khalifah Utsman bin Affan ra.
Makanya Al-Quran kita disebut dengan Mushaf Utsmani.
Salah satu ciri terkhasnya Mushaf Utsmani terletak pada sistematikanya. Awal Al-Quran dimulai dari Surat Al-Fatihah, lalu Surat-surat Al-Sab’u, Al-Main, Al-Mutsanna, dan baru ditutup dengan Al-Mufashal.
Sistematika seperti itu terilhami dari hadits-hadits berkenaan Al-Fatihah dan berikut:
1. Surat Al-Fatihah
Surat Al-Fatihah diletakkan di depan dikarenakan, bisa dibilang, surat inilah satu-satunya surat yang wajib dihafal oleh setiap orang Islam. Alasannya karena setiap rakaat shalat yang tidak dilafalkan Al-Fatihah maka rakaatnya tidak sah.
2. Surat-surat As-Sab’u
As-Sab’u di sini berbeda dengan “As-Sab’ul Matsani” yang di atas. As-Sab’u, alias 7 surat terpanjang, terdiri dari Surat Al-Baqarah (2), Ali Imran (3), An-Nisa (4), Al-Maidah (5), Al-An’am (6), Al-A’raf (7), dan Al-Anfal (8) + At-Taubah (10).
Iya, pada awalnya Mushaf Utsmani mengelompokkan surah ke 8 dan 9 tersebut sebagai satu surah.
Peletakan As-Sab’u setelah Al-Fatihah merujuk pada hadits Nabi saw. berikut:
3. Surat Al Main
Berikutnya surat-surat pengganti Zabur, yaitu Surat-surat Al-Main. Kelompok kedua ini juga terdiri dari 7 surat yang dimulai dari Surat Yunus hingga Surat An-Nahl (16).
4. Surat Al Matsani
Lalu para pengganti Injil, Al-Matsani. Jumlah Surat-surat Al-Matsani banyaknya hampir 5 kali lipat dari kelompok sebelumnya, tepatnya 33 surat mulai dari Surat Bani Israil (17) hingga surat ke 49 Surat Al-Hujurat.
5. Surat Al Mufashal
Dan di posisi terakhir diletakkanlah keunggulan Al-Quran dibandingkan 3 kitab sebelumnya, yakni kelompok Al-Mufashal. Di sinilah berdiri surat terbanyak, hingga lebih dari 60 surat.
Al-Mufashal diawali Surat Qaf (50) dan ditutup surat terakhir Surat An-Nas.