• About BWA
  • Partnership
  • Tokoh
  • Wakif
Blog BWA
Advertisement
  • Press Release
  • Al Quran Roadtrip
  • Testimoni
  • Video Gallery
  • Kolaborasi
No Result
View All Result
  • Press Release
  • Al Quran Roadtrip
  • Testimoni
  • Video Gallery
  • Kolaborasi
No Result
View All Result
Blog BWA
No Result
View All Result
Home Artikel

Jangan Hanya Dibaca, Inilah fakta Al Quran Yang Wajib Diketahui!

by DigitalBWA
March 18, 2025
in Artikel, Fiqih, Tafsir
0
Jangan Hanya Dibaca, Inilah fakta Al Quran Yang Wajib Diketahui!
0
SHARES
232
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Biasanya, fakta Al-Quran yang kita ketahui baru sebatas kedudukannya sebagai yang tertinggi di antara kitab-kitab samawi lainnya mengingat tujuan penurunannya untuk menyempurnakan keluaran-keluaran sebelumnya (Taurat, Zabur, dan Injil). 

Fakta Al-Quran lainnya paling peruntukannya yang tidak terbatas pada satu golongan, akan tetapi untuk seluruh manusia. Juga fakta bahwa keaslian/ otentisitasnya tidak pernah berubah sejak awal diturunkan. 

Namun di luar itu, kebanyakan muslim tidak mengetahui fakta-fakta lainnya. Karenanya Sahabat Wakaf memilih untuk membaca artikel ini sampai selesai, ya kan? 

Untuk Sahabat kami yang ingin mengenal lebih mendalam mengenai kitab suci kita bersama ini, teruslah gulir layarmu! 

Keep scrolling!

Fakta Al Quran yang pertama, asal-muasal “Al-Quran”

Yang akan kamu pelajari

Toggle
  • Fakta Al Quran yang pertama, asal-muasal “Al-Quran”
    • Lalu, mereka yang menyelisihi Imam Syafi'i dan Imam Ibnu Katsir
  • Fakta kedua, kelompok-kelompok surat di dalam Al Quran
    • A. Makkiyah/ Madaniyah
    • B. As-Sab’u/ Al-Main/ Al-Mutsanna/ Al-Mufashal
      • 1. Surat Al-Fatihah
      • 2. Surat-surat As-Sab’u
      • 3. Surat Al Main
      • 4. Surat Al Matsani
      • 5. Surat Al Mufashal

Perihal penamaan Al-Quran, ternyata ulama berbeda-beda pendapat mengenai asal kata dan makna “Al-Quran”. Cuman, sebagaimana yang tertulis di dalam Kitab At-Tibyan fi Ulumul Quran, secara garis besar mereka terbagi menjadi 2 kelompok. 

adab membaca Al-Quran
Sampul Kitab At-Tibyan karya Imam Nawawi

Pertama, ulama-ulama yang sepaham dengan Imam Syafi’i dan Imam Ibnu Katsir yang meyakini bahwasanya nama “Al-Quran” bukanlah dari bahasa Arab. 

Berdasarkan hasil-hasil kajian mereka, “Al-Quran” adalah nama pemberian Allah swt. langsung. Oleh karenanya hingga sekarang, bagi mereka, Al-Quran masih belum diketahui artinya. 

Meski berbeda terkait dengan penamaan Al-Quran, namun mereka tetap yakin akan kebahasaaraban Al-Quran. 

Mereka berkeyakinan jika Al-Quran tidak terucapkan dalam bahasa Arab yang jelas (fusha), tentu akan mudah bagi Kafir Quraisy mematahkan ajakan dakwah Nabi Muhammad saw. 

وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ اِنَّمَا يُعَلِّمُهٗ بَشَرٌۗ لِسَانُ الَّذِيْ يُلْحِدُوْنَ اِلَيْهِ اَعْجَمِيٌّ وَّهٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِيْنٌ
Sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya ia (Al-Quran) hanyalah (ajaran yang) diajarkan kepadanya (Nabi Muhammad) oleh seorang manusia.” (Nyatanya,) bahasa orang yang mereka tuduh (si pengajar) adalah bahasa ajam (bukan bahasa Arab). Padahal, ini (Al-Quran) adalah bahasa Arab yang jelas.
(Q.S. Al Naḥl [16]: 103)

Lalu, mereka yang menyelisihi Imam Syafi'i dan Imam Ibnu Katsir

Kelompok kedua, kelompok yang meyakini seluruh arti dan makna di dalam Al-Quran berasal dari Bahasa Arab. Mereka digolongkan ke dalam 3 golongan merujuk pada pemilihan asal kata dan makna “Al-Quran”. 

Golongan pertama ialah mereka yang meyakini akar kata Al-Quran itu dari kata “qara’a” yang berarti “baca”. Dari sanalah Al-Quran dimaknai sebagai “bacaan”/ “yang dibaca”. 

Yang kedua yang sama-sama meyakini bahwa akar katanya adalah “qara’a”, akan tetapi dengan arti “mengumpulkan”. Bagi mereka Al-Quran bermakna “kumpulan kalam Allah”. 

Dan terakhir golongan berpendapat akar katanya itu “qarana”. Mereka memang mengambil akar kata yang berbeda, namun maknanya sama seperti golongan di atas, 

sama-sama dimaknai sebagai “kumpulan kalam Allah” juga. 

Fakta kedua, kelompok-kelompok surat di dalam Al Quran

Bukan hanya pengajarnya (baca: ulama) saja yang berkelompok, melainkan surat-surat di dalamnya juga ‘dikotak-kotakan’.  

Sederhananya, pengelompokan surat di dalam Al-Quran ada yang didasarkan pada waktu penurunan serta pada penyusunannya. Alias pada kronologi dan sistematikanya. 

A. Makkiyah/ Madaniyah

Secara kronologinya, surat-surat Al-Quran yang turun sebelum Rasulullah hijrah digolongkan ke dalam Surat Makkiyah, dan sebaliknya digolongkan ke dalam Surat Madaniyah. 

Mengingat waktu penurunannya makanya Surat Makkiyah seringnya membahas ihwal ketauhidan, menyeru manusia pada umumnya (“ya ayyuhan nas”), dan jumlah ayatnya tidak sepanjang Surat Madaniyah. 

Adapun contoh Surat Makkiyah yaitu Al Fatihah, Al Iqro, dan 3 qulhu. 

Ayat Makkiyah
Contoh ayat Makkiyah

Sedangkan Surat Madaniyah memiliki corak bahasannya kemasyarakatan, lebih ditujukan kepada umat Islam (“ya ayyuhalladzina amanu”), dengan jumlah ayat panjang-panjang. 

Contoh suratnya itu Surat Al Baqarah, Ali Imran, dan Al Nisa. 

B. As-Sab’u/ Al-Main/ Al-Mutsanna/ Al-Mufashal

Di luar itu, secara sistematikanya Al-Quran yang lestari hingga ke tangan kita ialah hasil penyusunan para sahabat Nabi yang kemudian diresmikan di masa Khalifah Utsman bin Affan ra. 

Makanya Al-Quran kita disebut dengan Mushaf Utsmani. 

Salah satu ciri terkhasnya Mushaf Utsmani terletak pada sistematikanya. Awal Al-Quran dimulai dari Surat Al-Fatihah, lalu Surat-surat Al-Sab’u, Al-Main, Al-Mutsanna, dan baru ditutup dengan Al-Mufashal. 

Sistematika seperti itu terilhami dari hadits-hadits berkenaan Al-Fatihah dan berikut: 

1. Surat Al-Fatihah

Surat Al-Fatihah diletakkan di depan dikarenakan, bisa dibilang, surat inilah satu-satunya surat yang wajib dihafal oleh setiap orang Islam. Alasannya karena setiap rakaat shalat yang tidak dilafalkan Al-Fatihah maka rakaatnya tidak sah. 

Surat Alhamdulillah (Al-Fatihah) adalah Ummul Quran (seutama-tamanya surat di dalam Al-Quran), Ummul Kitab, dan As-Sab’ul Matsani (surat yang wajib dibaca di dalam setiap rakaat shalat).
(HR. Tirmidzi)

2. Surat-surat As-Sab’u

As-Sab’u di sini berbeda dengan “As-Sab’ul Matsani” yang di atas. As-Sab’u, alias 7 surat terpanjang, terdiri dari Surat Al-Baqarah (2), Ali Imran (3), An-Nisa (4), Al-Maidah (5), Al-An’am (6), Al-A’raf (7), dan Al-Anfal (8) + At-Taubah (10). 

Iya, pada awalnya Mushaf Utsmani mengelompokkan surah ke 8 dan 9 tersebut sebagai satu surah. 

Peletakan As-Sab’u setelah Al-Fatihah merujuk pada hadits Nabi saw. berikut: 

Aku diberi pengganti isi Taurat dengan As-Sab’u, pengganti Zabur dengan surat Al-Main, pengganti Injil dengan Al-Matsani, dan aku diberi tambahan dengan surat-surat Al-Mufashal.
(HR. Ahmad).

3. Surat Al Main

Berikutnya surat-surat pengganti Zabur, yaitu Surat-surat Al-Main. Kelompok kedua ini juga terdiri dari 7 surat yang dimulai dari Surat Yunus hingga Surat An-Nahl (16). 

4. Surat Al Matsani

Lalu para pengganti Injil, Al-Matsani. Jumlah Surat-surat Al-Matsani banyaknya hampir 5 kali lipat dari kelompok sebelumnya, tepatnya 33 surat mulai dari Surat Bani Israil (17) hingga surat ke 49 Surat Al-Hujurat.

5. Surat Al Mufashal

Dan di posisi terakhir diletakkanlah keunggulan Al-Quran dibandingkan 3 kitab sebelumnya, yakni kelompok Al-Mufashal. Di sinilah berdiri surat terbanyak, hingga lebih dari 60 surat. 

Al-Mufashal diawali Surat Qaf (50) dan ditutup surat terakhir Surat An-Nas. 

Jangan Hanya Dibaca, Inilah Fakta Al-Quran Yang … (fakta ketiga dan keempat)

Biasanya, fakta Al-Quran yang kita ketahui baru sebatas kedudukannya sebagai yang tertinggi di antara kitab-kitab samawi lainnya mengingat tujuan penurunannya untuk menyempurnakan keluaran-keluaran sebelumnya (Taurat, Zabur, dan Injil). 

Fakta Al-Quran lainnya paling peruntukannya yang tidak terbatas pada satu golongan, akan tetapi untuk seluruh manusia. Juga fakta bahwa keaslian/ otentisitasnya tidak pernah berubah sejak awal diturunkan. 

Namun di luar itu, kebanyakan muslim tidak mengetahui fakta-fakta lainnya. Karenanya Sahabat Wakaf memilih untuk membaca artikel ini sampai selesai, ya kan? 

Untuk Sahabat kami yang ingin mengenal lebih mendalam mengenai kitab suci kita bersama ini, teruslah gulir layarmu! 

Keep scrolling!

Fakta Al Quran yang pertama, asal-muasal “Al-Quran”

Perihal penamaan Al-Quran, ternyata ulama berbeda-beda pendapat mengenai asal kata dan makna “Al-Quran”. Cuman, sebagaimana yang tertulis di dalam Kitab At-Tibyan fi Ulumul Quran, secara garis besar mereka terbagi menjadi 2 kelompok. 

adab membaca Al-Quran
Sampul Kitab At-Tibyan karya Imam Nawawi

Pertama, ulama-ulama yang sepaham dengan Imam Syafi’i dan Imam Ibnu Katsir yang meyakini bahwasanya nama “Al-Quran” bukanlah dari bahasa Arab. 

Berdasarkan hasil-hasil kajian mereka, “Al-Quran” adalah nama pemberian Allah swt. langsung. Oleh karenanya hingga sekarang, bagi mereka, Al-Quran masih belum diketahui artinya. 

Meski berbeda terkait dengan penamaan Al-Quran, namun mereka tetap yakin akan kebahasaaraban Al-Quran. 

Mereka berkeyakinan jika Al-Quran tidak terucapkan dalam bahasa Arab yang jelas (fusha), tentu akan mudah bagi Kafir Quraisy mematahkan ajakan dakwah Nabi Muhammad saw. 

وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ اِنَّمَا يُعَلِّمُهٗ بَشَرٌۗ لِسَانُ الَّذِيْ يُلْحِدُوْنَ اِلَيْهِ اَعْجَمِيٌّ وَّهٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِيْنٌ
Sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya ia (Al-Quran) hanyalah (ajaran yang) diajarkan kepadanya (Nabi Muhammad) oleh seorang manusia.” (Nyatanya,) bahasa orang yang mereka tuduh (si pengajar) adalah bahasa ajam (bukan bahasa Arab). Padahal, ini (Al-Quran) adalah bahasa Arab yang jelas.
(Q.S. Al Naḥl [16]: 103)

Lalu, mereka yang menyelisihi Imam Syafi'i dan Imam Ibnu Katsir

Kelompok kedua, kelompok yang meyakini seluruh arti dan makna di dalam Al-Quran berasal dari Bahasa Arab. Mereka digolongkan ke dalam 3 golongan merujuk pada pemilihan asal kata dan makna “Al-Quran”. 

Golongan pertama ialah mereka yang meyakini akar kata Al-Quran itu dari kata “qara’a” yang berarti “baca”. Dari sanalah Al-Quran dimaknai sebagai “bacaan”/ “yang dibaca”. 

Yang kedua yang sama-sama meyakini bahwa akar katanya adalah “qara’a”, akan tetapi dengan arti “mengumpulkan”. Bagi mereka Al-Quran bermakna “kumpulan kalam Allah”. 

Dan terakhir golongan berpendapat akar katanya itu “qarana”. Mereka memang mengambil akar kata yang berbeda, namun maknanya sama seperti golongan di atas, 

sama-sama dimaknai sebagai “kumpulan kalam Allah” juga. 

Fakta kedua, kelompok-kelompok surat di dalam Al Quran

Bukan hanya pengajarnya (baca: ulama) saja yang berkelompok, melainkan surat-surat di dalamnya juga ‘dikotak-kotakan’.  

Sederhananya, pengelompokan surat di dalam Al-Quran ada yang didasarkan pada waktu penurunan serta pada penyusunannya. Alias pada kronologi dan sistematikanya. 

A. Makkiyah/ Madaniyah

Secara kronologinya, surat-surat Al-Quran yang turun sebelum Rasulullah hijrah digolongkan ke dalam Surat Makkiyah, dan sebaliknya digolongkan ke dalam Surat Madaniyah. 

Mengingat waktu penurunannya makanya Surat Makkiyah seringnya membahas ihwal ketauhidan, menyeru manusia pada umumnya (“ya ayyuhan nas”), dan jumlah ayatnya tidak sepanjang Surat Madaniyah. 

Adapun contoh Surat Makkiyah yaitu Al Fatihah, Al Iqro, dan 3 qulhu. 

Ayat Makkiyah
Contoh ayat Makkiyah

Sedangkan Surat Madaniyah memiliki corak bahasannya kemasyarakatan, lebih ditujukan kepada umat Islam (“ya ayyuhalladzina amanu”), dengan jumlah ayat panjang-panjang. 

Contoh suratnya itu Surat Al Baqarah, Ali Imran, dan Al Nisa. 

B. As-Sab’u/ Al-Main/ Al-Mutsanna/ Al-Mufashal

Di luar itu, secara sistematikanya Al-Quran yang lestari hingga ke tangan kita ialah hasil penyusunan para sahabat Nabi yang kemudian diresmikan di masa Khalifah Utsman bin Affan ra. 

Makanya Al-Quran kita disebut dengan Mushaf Utsmani. 

Salah satu ciri terkhasnya Mushaf Utsmani terletak pada sistematikanya. Awal Al-Quran dimulai dari Surat Al-Fatihah, lalu Surat-surat Al-Sab’u, Al-Main, Al-Mutsanna, dan baru ditutup dengan Al-Mufashal. 

Sistematika seperti itu terilhami dari hadits-hadits berkenaan Al-Fatihah dan berikut: 

1. Surat Al-Fatihah

Surat Al-Fatihah diletakkan di depan dikarenakan, bisa dibilang, surat inilah satu-satunya surat yang wajib dihafal oleh setiap orang Islam. Alasannya karena setiap rakaat shalat yang tidak dilafalkan Al-Fatihah maka rakaatnya tidak sah. 

Surat Alhamdulillah (Al-Fatihah) adalah Ummul Quran (seutama-tamanya surat di dalam Al-Quran), Ummul Kitab, dan As-Sab’ul Matsani (surat yang wajib dibaca di dalam setiap rakaat shalat).
(HR. Tirmidzi)

2. Surat-surat As-Sab’u

As-Sab’u di sini berbeda dengan “As-Sab’ul Matsani” yang di atas. As-Sab’u, alias 7 surat terpanjang, terdiri dari Surat Al-Baqarah (2), Ali Imran (3), An-Nisa (4), Al-Maidah (5), Al-An’am (6), Al-A’raf (7), dan Al-Anfal (8) + At-Taubah (10). 

Iya, pada awalnya Mushaf Utsmani mengelompokkan surah ke 8 dan 9 tersebut sebagai satu surah. 

Peletakan As-Sab’u setelah Al-Fatihah merujuk pada hadits Nabi saw. berikut: 

Aku diberi pengganti isi Taurat dengan As-Sab’u, pengganti Zabur dengan surat Al-Main, pengganti Injil dengan Al-Matsani, dan aku diberi tambahan dengan surat-surat Al-Mufashal.
(HR. Ahmad).

3. Surat Al Main

Berikutnya surat-surat pengganti Zabur, yaitu Surat-surat Al-Main. Kelompok kedua ini juga terdiri dari 7 surat yang dimulai dari Surat Yunus hingga Surat An-Nahl (16). 

4. Surat Al Matsani

Lalu para pengganti Injil, Al-Matsani. Jumlah Surat-surat Al-Matsani banyaknya hampir 5 kali lipat dari kelompok sebelumnya, tepatnya 33 surat mulai dari Surat Bani Israil (17) hingga surat ke 49 Surat Al-Hujurat.

5. Surat Al Mufashal

Dan di posisi terakhir diletakkanlah keunggulan Al-Quran dibandingkan 3 kitab sebelumnya, yakni kelompok Al-Mufashal. Di sinilah berdiri surat terbanyak, hingga lebih dari 60 surat. 

Al-Mufashal diawali Surat Qaf (50) dan ditutup surat terakhir Surat An-Nas. 

Jangan Hanya Dibaca, Inilah Fakta Al-Quran Yang … (fakta ketiga dan keempat)
Tags: Al Quranmembaca al quran
Previous Post

Fakta Keutamaan Sholat Tahajud, nomor 4 jadi dambaan setiap muslim!!

Next Post

Hadist: Sumber Ketetapan Islam Kedua Setelah Al-Qur’an

DigitalBWA

Next Post

Hadist: Sumber Ketetapan Islam Kedua Setelah Al-Qur'an

Stay Connected

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kumpulan doa umat Islam

Kumpulan Doa Sehari-hari Dari Al-Quran & Hadits

October 28, 2024
al Quran Jawa Tengah

Wakaf al Quran Untuk Orang Meninggal

May 16, 2025
Kunci kebahagiaan

Bersyukur dan bersabar kunci kebahagiaan menurut Islam

October 28, 2024
jenis-jenis tafsir

Tafsir Al Quran dan Jenis-jenisnya

October 22, 2024

Mendayung untuk Mencari Air Bersih

0

Air Gunungkidul

0

Air Bersih di Tengah Lautan Sampah

0

Al Qur’an Wakaf untuk Orang Sakai

0
Adab dan Etika dalam Islam yang Mulai Dilupakan

Adab dan Etika dalam Islam yang Mulai Dilupakan

August 20, 2025
Menjadi Muslim Produktif: Antara Ibadah dan Aktivitas Dunia

Menjadi Muslim Produktif: Antara Ibadah dan Aktivitas Dunia

August 20, 2025
Islam dan Lingkungan: Menjaga Alam adalah Ibadah

Islam dan Lingkungan: Menjaga Alam adalah Ibadah

August 20, 2025
Menghidupkan Sunnah dalam Kehidupan Modern

Menghidupkan Sunnah dalam Kehidupan Modern

August 13, 2025

Recent News

Adab dan Etika dalam Islam yang Mulai Dilupakan

Adab dan Etika dalam Islam yang Mulai Dilupakan

August 20, 2025
Menjadi Muslim Produktif: Antara Ibadah dan Aktivitas Dunia

Menjadi Muslim Produktif: Antara Ibadah dan Aktivitas Dunia

August 20, 2025
Islam dan Lingkungan: Menjaga Alam adalah Ibadah

Islam dan Lingkungan: Menjaga Alam adalah Ibadah

August 20, 2025
Menghidupkan Sunnah dalam Kehidupan Modern

Menghidupkan Sunnah dalam Kehidupan Modern

August 13, 2025
Blog BWA

Informasi Seputar Wakaf

Follow Us on Social Media

  • Contact Us
  • Syarat dan Ketentuan

© 2023 Blog BWA - Informasi Seputar Wakaf Blog BWA.

No Result
View All Result
  • Press Release
  • Al Quran Roadtrip
  • Testimoni
  • Video Gallery
  • Kolaborasi

© 2023 Blog BWA - Informasi Seputar Wakaf Blog BWA.