Sultan Muhammad al Fatih merupakan salah satu tokoh besar dalam sejarah islam yang dikenal karana kecerdasan, keberanian dan keteguhan dalam memperjuangkan agama islam. Ia memiliki nama asli yaitu Sultan Mehmed II dan merupakan sosok pemimpin terbesar yang berhasil menaklukkan Konstantinopel.
Keberhasilan dalam menaklukkan Konstantinopel bukanlah semata-mata kekuatan militer dan strategi peperangan yang hebat, melainkan juga di dukung oleh keimanan, kedisiplinan, derta bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amal shaleh. Sejak usia muda, Muhammad Al-Fatih telah mendapatkan pendidikan agama yang kuat, dibimbing oleh para ulama, dan dibiasakan untuk mencintai ilmu pengetahuan.
Ada sejumlah amalan yang biasa dilakukan Muhammad Al-Fatih yang dapat kita teladani dalam kehidupan sehari hari.
Menghormati Ilmu dan Para Ulama
Al Fatih selalu menjaga hubungan dekat dengan para gurunya sepanjang hidup. Aq Syamsuddin tetap menjadi penasihat spiritualnya, dan namanya melekat pada kisah penaklukan Konstantinopel. Beberapa sumber menggambarkan Al Fatih sebagai pencinta sastra, pembaca yang tekun, dan penyair yang baik. Ia juga dikenal menguasai bahasa dan sejarah. ia juga pemimpin yang dikenal karena kekuatan militernya ternyata menyerap ilmu secara serius dan mau diarahkan oleh orang yang lebih berilmu.
Menjaga Salat Fardu, Rawatib, dan Tahajud Sejak Baligh
Kisah yang paling sering diulang tentang Al Fatih adalah kedisiplinannya dalam shalat. Menurut riwayat populer, sejak baligh hingga wafat ia tidak pernah meninggalkan shalat tahajud dan shalat rawatib (sunnah yang mengiringi shalat fardhu).
Terdapat sebuah peristiwa historis saat pelaksanaan Salat Jumat pertama setelah penaklukan Konstantinopel di Hagia Sophia. Saat itu, jamaah saling menunjuk siapa yang paling pantas menjadi imam. Al-Fatih kemudian meminta seluruh jamaah berdiri, lalu berseru meminta siapa pun yang pernah batal atau meninggalkan salat fardu, salat sunah rawatib, atau salat tahajjud sejak balig untuk duduk satu per satu.
Hasilnya, seluruh pasukan dan jenderal perlahan duduk, dan hanya Sultan Muhammad Al-Fatih satu-satunya orang yang tetap berdiri. Hal ini membuktikan bahwa ia tidak pernah melewatkan salat wajib, rawatib, maupun tahajjud sejak ia memasuki usia remaja. Dialah yang akhirnya maju memimpin salat Jumat tersebut.
Persiapan Matang dan Tawakal
Penaklukan Konstantinopel pada 29 Mei 1453 adalah hasil persiapan panjang, bukan keberuntungan. Ia memadukan perencanaan militer dengan keyakinan pada kabar gembira Nabi tentang kota itu, yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad: kota itu akan ditaklukkan, dan pemimpin serta pasukannya adalah yang terbaik.
Dari sisi teknis, Al Fatih membangun benteng Rumeli Hisarı di tepi Selat Bosphorus pada 1452, menyiapkan meriam besar, dan memindahkan kapal lewat darat untuk masuk ke Tanduk Emas. Dari sisi batin, ia ditemani Aq Syamsuddin sebagai pembimbing selama pengepungan.
Pelajarannya sederhana: ikhtiar dan doa berjalan bersama. Al Fatih tidak menunggu kemenangan datang sendiri, dan tidak pula mengandalkan strategi tanpa bersandar kepada Allah.
Zikir, Puasa, dan Tilawah
Ada suatu masa ketika menjelang hari-hari penaklukkan Konstantinopel, Sultan Muhammad Al-Fatih memerintahkan kepada seluruh pasukan untuk berpuasa sunnah di siang hari, lalu menghidupkan malam dengan sholat, membaca Al-Quran, dan berzikir.
Diceritakan bahwa gemuruh zikir dari kemah pasukan Utsmani pada malam-malam sebelum penaklukan seakan-akan terdengar seperti dengung lebah raksasa, dan konon dapat melemahkan moral pasukan musuh di balik tembok kota.
Menghidupkan Bisyarah Rasulullah didalam hati
Sejak kecil, Al-Fatih menjadikan hadis Rasulullah SAW sebagai “wirid” di dalam hatinya:
“Konstantinopel pasti akan ditaklukkan. Sebaik-baik amir (pemimpin) adalah amirnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.”
Beliau yakin sekali akan bisyarah tersebut. Keyakinan inilah yang membuatnya tidak pernah putus asa meskipun pasukan Islam telah mencoba menaklukkan kota tersebut selama berabad-abad dan selalu gagal, serta membuatnya berani melakukan strategi di luar nalar seperti menarik kapal perang menaiki bukit Galata dalam satu malam.
Memberi Perlakuan yang Adil terhadap Kaum Non-Muslim
Setelah kota jatuh, Al Fatih memilih mempertahankan penduduk non-Muslim dan mengatur hak mereka, bukan mengusir mereka. Pada Januari 1454 ia mengangkat Gennadios Scholarios sebagai patriark Gereja Ortodoks dan memberinya wewenang sipil serta keagamaan atas komunitas Kristen
Kesimpulan
Keberhasilan Sultan Muhammad Al Fatih bertumpu pada kebiasaan yang ia bangun jauh yaitu ibadah yang dijaga, ilmu yang dituntut dari para ulama, persiapan yang matang, dan tawakal kepada Allah. Setelah menang, ia mengatur hak penduduk non-Muslim serta membangun masjid dan kota agar tetap hidup. Pesan utamanya ialah: kemenangan besar lahir dari amalan-amalan kecil yang dilakukan secara konsisten.









