Dalam kehidupan sehari hari, tidak jarang kita mendengar cerita ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan orang orang kuat baik dari kuatnya fisik, kedudukan, maupun secara finansial. Tidak jarang mereka sering kali menindas orang orang yang lemah. Namun itu tidak selamanya. ada satu kekuatan khusus yang hanya dimiliki oleh orang yang terdzalimi, yaitu kekuatan doa. Doa ini memiliki kekuatan luar biasa yang dapat mengalahkan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan yang ada layaknya anak panah yang meluncur murni tanpa ada penghalang (hijab) antara dirinya dengan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda
“Hati-hatilah terhadap doa orang yang terdzalimi, karena tidak ada penghalang antara doa orang yang terdzalimi dengan Allah.” (HR. Bukhari)
Hadist ini mengingatkan bahwa agar selalu berhati-hati dalam bersikap. terutama terhadap orang-orang yang lemah. Bisa saja tanpa sengaja telah mendzalimi mereka baik secara lisan maupun secara fisik. Rasulullah SAW bersabda
“Tiga doa yang tidak tertolak: Doa orang yang berpuasa, doa orang yang terdzalimi, dan doa seorang musafir.” (HR. Tirmidzi)
Berikut adalah beberapa kisah nyata dan populer sepanjang sejarah mengenai dahsyatnya doa orang-orang yang terzalimi:
Kisah Sa’ad bin Abi Waqqas r.a terhadap pemfitnahnya
Sa’ad bin Abi Waqqas adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang dikenal memiliki doa yang sangat mustajab. Ketika beliau menjabat sebagai gubernur di Kufah pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ada seorang pria bernama Usamah bin Qatadah (Abu Sa’dah) yang menyampaikan fitnah kejam. Di depan utusan Umar, Usamah menuduh Sa’ad tidak pernah ikut berperang, tidak membagi harta pampasan dengan adil, dan tidak memimpin salat dengan benar.
Sa’ad yang merasa sangat terzalimi oleh fitnah tersebut kemudian mengangkat tangannya dan berdoa:
“Ya Allah, jika hamba-Mu ini berdusta dan berdiri hanya untuk mencari pamer serta popularitas, maka panjangkanlah umurnya, jadikanlah ia sangat miskin, dan timpakanlah berbagai fitnah kepadanya.”
Allah mengabulkan doa tersebut. lalu Usamah bin Qatadah pun jatuh sangat miskin, hidupnya terlunta-lunta, tertimpa fitnah dan bencana, dan berumur panjang sampai alis menutupi matanya. ia pun sering mengeluh bahwa dirinya tertimpa kesusahan akibat doa Sa’ad.
Sa’id bin Zaid r.a. dan Arwa binti Aus
Sa’id bin Zaid r.a. adalah salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Suatu hari, seorang wanita bernama Arwa binti Aus menuduh Sa’id telah menyerobot sebagian tanah miliknya dan melaporkannya kepada gubernur Madinah saat itu, Marwan bin al-Hakam.
Sa’id sangat sedih dan terzalimi karena tuduhan palsu tersebut. Beliau berkata bahwa mana mungkin beliau mencuri tanah orang lain sementara beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa barang siapa mengambil tanah orang lain walau sejengkal, akan dikalungkan padanya tujuh lapis bumi. Sa’id kemudian berdoa:
“Ya Allah, jika wanita ini berdusta, maka butakanlah penglihatannya dan matikanlah ia di tanahnya sendiri.”
Tak lama setelah peristiwa itu, mata Arwa binti Aus mengalami kebutaan total. Suatu hari, ketika Arwa sedang berjalan-jalan di atas tanah yang pernah ia klaim secara lalim tersebut, ia terperosok ke dalam lubang sumur dan meninggal dunia di sana.
Perenungan Keluarga Al-Barmaki di Dalam Penjara
Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, keluarga Al-Barmaki adalah keluarga pejabat yang sangat berpengaruh, kaya raya, dan berkuasa. Namun, karena kekuasaan yang membuat mereka lalai, banyak rakyat kecil yang terzalimi oleh kebijakan-kebijakan mereka.
Hingga pada suatu hari, Khalifah Harun al-Rasyid mencopot seluruh jabatan mereka, menyita seluruh harta bendanya, dan memasukkan mereka ke dalam penjara bawah tanah.
Di dalam sel yang gelap dan dingin, anak dari Yahya bin Khalid al-Barmaki menangis dan bertanya kepada ayahnya.
“Wahai Ayah, setelah kejayaan, kemewahan, dan kekuasaan yang kita miliki, bagaimana mungkin kita berakhir di tempat yang seburuk ini?”
Yahya bin Khalid menjawab dengan penuh penyesalan
“Mungkin ini adalah doa dari orang yang pernah kita zalimi. Di malam hari, kita tertidur lelap menikmati kezaliman kita, sementara orang yang kita zalimi terjaga meneteskan air mata memohon keadilan kepada Allah. Dan ingatlah, Allah tidak pernah tidur.”
Kesimpulan
Begitulah kisah-kisah masyhur tentang orang yang terdzalimi. Sebaiknya kita harus berhati-hati dalam berbicara dan bersikap agar tidak melukai perasaan orang lain agar terhindar dari bencana yang diakibatkan doa dari orang yang terdzalimi.
Bicara tentang doa orang-orang yang terzalimi, mata dan hati kita tentu tidak bisa berpaling dari saudara-saudara kita di Palestina. Hingga hari ini, mereka adalah gambaran nyata dari ketabahan jiwa-jiwa yang teraniaya, memohon keadilan di tengah kepungan krisis kemanusiaan yang teramat berat.
Jika doa orang-orang yang terzalimi menembus langit tanpa penghalang, maka sudah sepatutnya kita—yang hidup dalam kedamaian—menjadi perpanjangan tangan dan penyambung lidah bagi perjuangan mereka. Mari salurkan tangan kita dengan membantu saudara kita di Palestina dengan cara berdonasi Klik disini.









