
Pada akhir November 2025 telah terjadi bencana dahsyat yang menimpa Sumatra. Hujan deras yang turun terus selama beberapa hari membuat sungai meluap dan tanah di daerah perbukitan menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah tempat. Akibatnya, ratusan desa terendam banjir, banyak jalan dan fasilitas penting rusak, serta aktivitas warga terhenti. Bencana ini juga menyebabkan ratusan orang meninggal dunia. Tercatat hingga per 17 Desember 2025, jumlah warga yang meninggal tembus di angka 1.157 orang. Sebanyak 165 warga masih dinyatakan hilang dan jumlah pengungsi mencapai 381.100 orang.
Sejumlah wilayah hingga kini masih belum menerima bantuan secara maksimal. Banyak rumah masih terendam air, sementara akses jalan tertutup lumpur tebal. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena ancaman bencana susulan masih ada. Di Batu Busuk, Kota Padang, bencana susulan bahkan sudah terjadi pada 14 Desember lalu. Daerah lain juga diminta tetap waspada karena curah hujan diperkirakan masih tinggi.
Beberapa wilayah terdampak kini tampak seperti kota mati. Banyak jalan terputus akibat amblas dan rusaknya jembatan. Ribuan kubik kayu gelondongan serta puing-puing bangunan menutup sejumlah kawasan. Bangkai kendaraan berserakan dan menutup ruas jalan, seperti yang terjadi di Aceh Tamiang. Melihat kondisi ini, proses pemulihan terasa sangat berat dan penuh tantangan.
Pandangan Islam
Sungguh Allah Swt. telah mengingatkan bahwa ketidaktaatan pasti mengundang bencana dan penderitaan. Salah satunya dalam QS Thaha ayat 124 Allah berfirman,
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.”
Begitu pun dalam QS Al-A’raf ayat 96, Dia berfirman,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Ayat-ayat tersebut—dan masih banyak ayat lainnya—menyampaikan satu pesan penting: ketika manusia mengingkari atau tidak menaati hukum-hukum Allah, kerusakan pasti terjadi. Sebaliknya, jika aturan-aturan Allah dijalankan, maka kebaikan dan keberkahan akan terwujud. Ini bukan hanya soal keimanan, tetapi karena Islam memang diturunkan sebagai pedoman hidup yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan manusia.
Syariat Islam tidak hanya mengatur ibadah dan urusan akhirat, tetapi juga mengatur kehidupan sosial dan bernegara, bahkan hubungan antarnegara. Islam memiliki aturan tentang pemerintahan, ekonomi dan keuangan, pergaulan masyarakat, hukum dan sanksi, pendidikan, kesehatan, dan bidang kehidupan lainnya.
Islam juga tidak mengenal kebebasan tanpa batas, baik dalam perilaku maupun kepemilikan. Manusia terikat dengan hukum syariat. Dalam soal kepemilikan, Islam membedakan mana yang boleh dimiliki individu dan mana yang tidak. Sumber daya alam, termasuk hutan, ditetapkan sebagai milik umum. Karena itu, tidak boleh dimiliki oleh individu, dan negara pun tidak boleh memperjualbelikannya atau menyerahkannya kepada pihak tertentu dengan alasan apa pun.
Dalam sistem Islam (Khilafah), negara justru diberi amanah untuk mengelola harta milik umum tersebut demi kesejahteraan seluruh rakyat. Para pemimpinnya menyadari bahwa amanah ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Karena itulah, sejarah peradaban Islam dipenuhi kisah kepemimpinan yang adil, rakyat yang sejahtera, serta kejayaan yang sulit ditandingi.
Sejarawan Will Durant menggambarkan bahwa para khalifah telah memberikan rasa aman yang luar biasa bagi masyarakat. Mereka membuka banyak kesempatan, menjamin kesejahteraan selama berabad-abad, dan mendorong kemajuan pendidikan. Ilmu pengetahuan, sastra, filsafat, dan seni berkembang pesat, menjadikan Asia Barat sebagai wilayah dengan peradaban paling maju selama lima abad (Will Durant, Kisah Peradaban).
Oleh karena itu, bencana besar yang terjadi saat ini seharusnya menjadi pengingat dan momentum untuk bangkit. Sudah saatnya umat menyadari bahwa sistem sekuler yang berjalan sekarang tidak mampu memberi solusi menyeluruh. Umat perlu kembali kepada agama sebagai sistem hidup yang sesuai dengan fitrah manusia, yaitu menjalani peran sebagai hamba Allah sekaligus pemimpin (khalifah) di bumi.
Yuk bantu sodara kita untuk berdonasi ke alamat berikut





