Bulan Syawal merupakan bulan yang datang setelah bulan suci Ramadhan. Bulan Syawal memiliki keistimewaan sebagai pelengkap ibadah di bulan Ramadhan sehingga keberkahannya akan terus mengalir bagi semua muslim. Beberapa amalan di bulan Syawal bisa kita amalkan dan mendatangkan pahala berlimpah apabila dikerjakan semata mata karena Allah swt. Berikut amalan-amalan yang bisa dikerjakan setiap muslim pada salah satu bulan yang mulia ini.
Puasa Syawal 6 Hari
Salah satu keutamaan bulan Syawal adalah adanya anjuran untuk melaksanakan puasa enam hari. Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan seperti puasa sepanjang tahun. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang berasal dari Abu Ayub Al Anshari, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadan lalu melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu setara dengan puasa sepanjang tahun.” (HR Muslim, Imam Ahmad juga meriwayatkan dari hadits Jabir).
Bersedekah
Bersedekah adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sedekah tidak hanya berupa uang, tetapi juga bisa dalam bentuk bantuan, tenaga, bahkan senyuman. Amalan ini memiliki banyak keutamaan, baik di dunia maupun di akhirat.
Puasa Senin Kamis
Beberapa hadis menyebutkan bahwa puasa pada hari Senin dan Kamis termasuk amalan sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Dari Aisyah r.a. diriwayatkan bahwa beliau berkata, “Rasulullah SAW begitu semangat dan rutin melaksanakan puasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad). Sejumlah riwayat menjelaskan bahwa puasa pada hari Senin dan Kamis merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis, Aisyah r.a. menuturkan bahwa Rasulullah SAW selalu bersemangat dan menjaga konsistensi dalam menjalankan puasa di kedua hari tersebut. (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad).
Silaturahmi
Bulan Syawal menjadi momen yang tepat untuk mempererat dan menyambung tali silaturahmi. Anjuran untuk menjaga hubungan baik dengan sesama juga disebutkan dalam hadis dari Abu Ayyub Al Anshori. Dalam hadis tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat mengantarkan seseorang masuk surga, lalu beliau pun menjawab:
Artinya: “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983)
Selain membawa keutamaan seperti dilapangkannya rezeki dan menjadi bukti keimanan, menjaga tali silaturahmi juga dapat menjauhkan seseorang dari perbuatan dosa yang dapat menjerumuskannya ke dalam api neraka. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari Abu Bakroh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)” (HR. Abu Daud no. 4902, Tirmidzi no. 2511, dan Ibnu Majah no. 4211, shahih).
Puasa Ayamul Bidh
Amalan sunnah lainnya di bulan Syawal adalah puasa Ayyamul Bidh, yaitu puasa yang dilaksanakan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah. Dalam hadis riwayat Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash r.a., disebutkan bahwa salah satu keutamaan puasa ini adalah pahalanya seperti berpuasa sepanjang tahun. Keutamaan tersebut juga dijelaskan dalam riwayat Abu Daud.
Artinya: “Puasa tiga hari di setiap bulannya adalah seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR Bukhari).
Puasa Ayyamul Bidh termasuk amalan yang senantiasa dijaga oleh Nabi SAW dan tidak pernah beliau tinggalkan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW memberikan tiga wasiat kepada salah seorang sahabatnya, Abu Darda r.a., yang salah satunya adalah menjaga amalan tersebut.
Artinya: “Rasulullah SAW berpesan kepadaku tiga hal yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati, yaitu berpuasa setiap tiga hari pada setiap bulannya, mengerjakan dua rakaat salat duha, serta salat witir sebelum tidur.” (HR Bukhari dan Muslim).
I’tikaf
I’tikaf adalah kegiatan berdiam diri di masjid dalam jangka waktu tertentu dengan tujuan melakukan berbagai ibadah demi meraih ridha Allah SWT. Amalan ini yang biasa dilakukan pada bulan Ramadhan juga dianjurkan untuk tetap dilaksanakan di bulan Syawal. Selama i’tikaf, seseorang dapat memperbanyak ibadah seperti berzikir, menunaikan salat wajib dan sunnah, serta membaca Al-Qur’an untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Pada dasarnya, i’tikaf merupakan amalan sunnah yang bisa dilakukan kapan saja, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Waktu pelaksanaannya pun fleksibel, bisa hanya beberapa jam seperti 1, 2, atau 3 jam, hingga sehari semalam (24 jam). Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ Al-Fatawa (15/437), i’tikaf di masjid adalah salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan, baik pada bulan Ramadhan maupun di waktu lainnya.
Melangsungkan Pernikahan
Amalan lain yang dianjurkan di bulan Syawal adalah melangsungkan pernikahan atau membangun rumah tangga. Menikah di bulan Syawal termasuk sunnah Rasulullah SAW yang dahulu dilakukan untuk membantah kepercayaan keliru masyarakat jahiliyah yang menganggap bahwa pernikahan di bulan ini membawa kesialan atau musibah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha:
Artinya: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikahiku pada bulan Syawal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara istri-istri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR Muslim).
Dengan demikian, menikah di bulan Syawal bukan sekadar tradisi masyarakat, tetapi juga merupakan amalan yang dianjurkan dan telah dijelaskan dalam hadis Nabi SAW.








