Salah satu akhlak yang terdapat pada diri Rasulullah SAW adalah sifat as -shiddiq (jujur). Shiddiq berarti benar atau jujur. Lawan dari Shiddiq (jujur) adalah Kizb (dusta, bohong). Akhlak jujur yang terdapat pada diri Rasulullah semestinya wajib ada pada diri muslim dan muslimah.Seorang muslim dituntut selalu berada dalam keadaan jujur lahir batin. Jujur hati (shidq al-qalb), jujur dalam perkataan (shidq al-hadits) dan jujur dalam perbuatan (shidq al-`amal).
di dalam Islam, sifat jujur sangat dimuliakan. Allah mensifati diriNya dengan sifat jujur. Allah SWT berfirman:
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah ?” (Qs. an-Nisa’: 87)
Allah juga mensifati para RasulNya dengan sifat jujur. Allah SWT berfirman
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (Qs. at-Taubah: 119)
Allah juga menjadikan sifat jujur ini sebagai tanda-tanda orang shaleh, sebagaimana firman Allah:
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”. (Qs. al-Ahzab: 23)
Rasulullah SAW menjadikan nilai kejujuran sebagai asas kebaikan. Rasulullah SAW bersabda yang artinya
“Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke sorga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka.Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong” (HR. Muslim).
Nabi SAW juga bersabda;
“Tiada seorang yang menyaksikan bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah saw dengan penuh kejujuran dari hatinya, kecuali diharamkan oleh Allah terhadap neraka”. (HR Bukhari)
Kejujuran dapat memberikan ketenangan untuk manusia karena sesuai dengan fitrah manusia. Sedangkan kedustaan atau kebohongan akan mengakibatkan kebimbangan dan kegelisahan karena bertentangan dengan manusia. Rasulullah SAW bersabda :
“Tinggalkanlah hal yang membimbangkan kalian, menuju sesuatu yang tidak membimbangkan, sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan, dan kebohongan adalah kebimbangan”. (HR Turmudzi; hadits hasan shahih)
Kejujuran merupakan sebab dibangkitkan seseorang bersama para nabi, orang-orang syahid, dan orang-orang shaleh. Allah SWT berfirman
“Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (Qs. an-Nisa’: 69)








