Baru baru ini kita dikejutkan adanya berita viral Challenge membaca ad-Dhuha berhadiah miras. Aktivitas tersebut sangat tidak dibenarkan oleh Islam. MUI mengecam keras dengan aktivitas tersebut dan berpotensi menistakan agama. “Alquran adalah kalam Allah yang wajib ditempatkan dengan penghormatan (ta’zhim), sedangkan khamar secara jelas diperintahkan Allah untuk dijauhi,” tutur Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan MUI Pusat, Ustadz Erick Yusuf.
Terlepas dari berita tersebut, Surat Ad-Dhuha memiliki banyak keutamaan diantaranya adalah memberikan ketenangan hati dan mengusir kecemasan. Surat Ad-dhuha juga dapat menguatkan hati akan datangnya pertolongan Allah. Lalu apa saja kandungan dari Surat Ad-Dhuha ini?
Sebagai Pelipur Lara Rasulullah SAW
Rasulullah SAW pernah merasa cemas karena sudah lama firman Allah tidak kunjung datang. Ada yang mengatakan selama 12 hari, ada yang mengatakan selama 3 bulan bahkan ada yang mengatakan wahyu itu terputus selama 6 bulan. melihat kerisauan Rasulullah SAW pun membuat orang orang kafir senang dan beramai-ramai mencemooh Nabi. Puncaknya adalah ketika Ummu Jamilah, istri Abu Lahab mengatakan, “Lihatlah! Muhammad telah ditinggalkan setan-setannya”. Ini suatu ejekan yang sangat menyakitkan, karena wahyu yang selama ini sampai kepada Nabi diumpamakan sebagai setan.
Hingga kemudian Allah mengutus malaikat Jibril untuk menjawab pertanyaan Ummu Jamilah tadi dengan menurunkan surat Adh-Dhuha.
Ketika Allah Bersumpah kepada Makhluknya
Ketika Allah bersumpah kepada makhlukNya
“Demi waktu Dhuha, dan demi waktu malam apabila telah gelap gulita.” (QS. Ad-Dhuha: 1-2)
maka akan ada suatu hal besar yang Allah ungkapkan. “ Kemudian Allah berfirman
Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membenci. Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”
“Sungguh, kelak (di akhirat nanti) Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau rida.“(QS. Ad-Dhuha: 3-5)
Ini adalah kabar gembira untuk Rasulullah bahwa jangan merasa ditinggal atau dibenci Allah. Allah meridhoi apa yang dilakukan Rasulullah, dan Rasulullah menerima dengan ridho karena akhirat lebih baik daripada dunia.
Mengingat Pertolongan Allah di masa lalu
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(-mu)” (QS. Ad-Dhuha: 6)
Setelah sepeninggal ibunya, Rasulullah mendapat perlindungan dan kasih sayang dari Allah SWT melalui perlindungan kakek serta pamannya.
“mendapatimu sebagai seorang yang tidak tahu (tentang syariat), lalu Dia memberimu petunjuk (wahyu)”(QS. Ad-Dhuha: 7)
Waktu itu Rasulullah belum mengenal Al-Qur’an, belum mengenal syariat, dan tidak tahu apa tujuan hidup ini. kemudian Allah memberikan petunjuk.
“dan mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia memberimu kecukupan?” (QS. Ad-Dhuha: 8)
Allah memberikan kecukupan dan kelapangan hati serta istri yang kaya dan disegani.
Perintah Berbuat baik kepada Anak Yatim dan Fakir Miskin
Allah SWT berfirman
Terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik.(QS. Ad-Dhuha: 9-10)
Allah memberikan pesan bahwa ketika didatangi anak yatim, jangan berperilaku sewenang-wenang, menindas, atau merendahkan mereka. dan ketika didatangi orang yang meminta-minta dilarang menghardik atau menolak mereka dengan kasar (baik yang meminta bantuan harta maupun petunjuk/ilmu).
Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).(QS. Ad-Dhuha: 11)
Hikmah
Terdapat beberapa hikmah penting yang dapat kita petik dari Surat Ad-Dhuha. Pertama, kita diingatkan untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat dan rezeki yang Allah SWT limpahkan. Kedua, senantiasa memelihara rasa syukur dan tidak meremehkan sekecil apa pun nikmat dari-Nya. Ketiga, manfaatkanlah seluruh rezeki yang diterima sebagai sarana memperbanyak amal ibadah, bukan justru digunakan untuk menentang perintah-Nya.
Banyak dari mereka yang semangat menghafal Al-Qur’an, namun terkendala fasilitas. Lewat program Wakaf Al-Qur’an Pembinaan dari Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA), setiap mushaf yang Anda titipkan tidak hanya disalurkan, tetapi juga disertai pembinaan bagi penerimanya agar Al-Qur’an benar-benar dibaca dan diamalkan.
Mengapa Berwakaf di BWA?
- 📍 Tepat Sasaran: Menjangkau wilayah rawan akidah, rawan pendidikan, dan daerah terpencil.
- 📖 Keberlanjutan: Disertai program pembinaan pengajaran Al-Qur’an.
- ♾️ Pahala Abadi: Pahala mengalir selama mushaf tersebut dibaca dan dipelajari.
Jangan tunda kesempatan menanam investasi akhirat. Salurkan wakaf Al-Qur’an terbaikmu sekarang! Klik disini









