Sebagai Mukmin tentu saja mengharapkan dicintai Allah SWT. Namun bagaimana caranya kita tahu kalau Allah menyayangi hambanya? Apakah ada tanda-tanda yang bisa dirasakan di dunia sebelum kelak mendapatkan kemuliaan di akhirat?
Cinta kasih Allah bukanlah sekedar hal biasa, melaikan sebuah anugerah tertinggi yang dapat dirasakan. Ketika Allah mencintai seorang hamba, Allah senantiasa memberikan rahmat dan keberkahan kepada makhluk-Nya. Ia tidak terjadi hanya karena amal seorang hamba, tetapi juga ketundukan dan ketaatan seorang hamba kepada Allah. Ketika seorang hamba hidup dalam ketaatan dan menyadari kebesaran Allah, maka Allah akan menuntun setiap langkahnya menuju kebaikan serta memberikan petunjuk dalam menjalani kehidupan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 31:
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Rasulullah memberikan jawabannya di dalam hadist shahih
“Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah ia.’ Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit seraya berkata: ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah ia.’ Maka penduduk langit pun mencintainya, lalu Allah menjadikan penerimaan dan simpati terhadapnya di bumi.
Dan apabila Allah membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku membenci si Fulan, maka bencilah ia.’ Maka Jibril pun membencinya. Lalu Jibril menyeru kepada penduduk langit: ‘Sesungguhnya Allah membenci si Fulan, maka bencilah ia.’ Maka mereka pun membencinya, kemudian kebencian terhadapnya ditanamkan di bumi.” (HR. Muslim, no. 2637; juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 7485 dengan redaksi yang sedikit berbeda)
Tanda-tanda Allah menyayangi hambanya
Diberikan Pemahaman Agama
Jika Allah mencintai hamba-Nya, maka Allah akan memberikan pemahaman agama kepadanya. Rasulullah bersabda:
”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberikan dunia kepada orang yang dicintai dan kepada yang tidak dicintai, namun tidak memberikan agama kecuali kepada orang yang dicintai-Nya. Maka, barangsiapa yang Allah berikan agama, berarti Allah mencintainya.”
Allah SWT senantiasa menghiasi lisan hamba yang dicintai-Nya dengan dzikir serta menggerakkan seluruh anggota tubuhnya untuk selalu taat dan mengingat-Nya. Allah juga menghiburnya dan menjauhkannya dari sifat lalai. Dengan demikian, hamba tersebut akan selalu dekat dan terhubung dengan Allah SWT.
Diberikan Kesedihan
Cara Allah mencintai hamba-Nya yaitu Allah akan memberikan kesedihan. Tujuannya adalah agar seorang hamba akan semakin mengingat-Nya. Hendaknya, disaat kesedihan melanda kita akan lebih banyak mengingat Allah SWT.
Diberikan Kehilangan
Saat yang paling menyakitkan bagi seseorang adalah kehilangan, terlebih kehilangan orang yang sangat dicintai. Namun di balik peristiwa kehilangan tersebut, Allah SWT ingin mengingatkan kita bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang kekal, kecuali Allah SWT. Melalui kehilangan, Allah juga menguatkan hati kita dengan keyakinan bahwa Allah SWT akan selalu hadir dan setia menemani setiap hamba-Nya.
Diberikan Ujuan dan Cobaan
Banyaknya ujian atau cobaan yang diberikan oleh Allah SWT dapat menjadi tanda kasih sayang-Nya kepada seorang hamba. Melalui ujian tersebut, Allah SWT ingin menyucikan hamba-Nya dari dosa dan perbuatan buruk. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya besarnya balasan sejalan dengan besarnya ujian. Apabila Allah SWT mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik).
Akan Diwafatkan Dalam Keadaan Baik
Allah SWT akan membukakan pintu amal saleh bagi hamba yang dicintai-Nya sebelum ajal menjemput. Dengan demikian, hamba tersebut akan wafat dalam keadaan husnul khatimah. Rasulullah SAW bersabda, “Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya untuk beramal saleh sebelum meninggal, kemudian Allah memberikan pahala yang sempurna kepadanya.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim dalam Majma’ Az-Zawaid 7/217).








